Terpleset Lantai Tak Menahanku Untuk Terus Mengejarmu

Terpleset Lantai Tak Menahanku Untuk Terus Mengejarmu

(Part of Lusia's story life)


Semua orang pasti memiliki pengalaman berbeda terkait jatuh cinta pada pandangan pertama. Cinta pada pandangan pertama memang merupakan anugerah yang diberikan Tuhan. Kata-kata saja tidak akan cukup untuk menggambarkan suasana hati dan perasaan untuk mengungkapkan bagaimana bahagianya saat merasakan jatuh cinta untuk pandangan pertama Salah satu hal yang sering terjadi adalah jatuh cinta pada pandangan pertama membuat orang merasa tidak tenang, dunia seakan terbalik dan perasaan campur aduk. Kegembiraan dan kegugupan saling terkait. Hal inilah yang membuat orang sulit mengontrol diri saat bertemu dengan orang yang mereka cintai pada pandangan pertama. Sulit untuk fokus pada hal lain karena perhatian kita sepenuhnya terfokus pada hal itu.


Cinta pada pandangan pertama ini juga pernah dirasakan oleh Lusia Fitriyanti, gadis berprawakan kecil namun tangguh dalam setiap hal. Dulu saat ia masih duduk dibangku kelas tujuh, tepatnya di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sanden. Lusia pernah merasakan jatuh cinta sejatuhnya pada kakak kelasnya, yang ia panggil dengan sebutan Mas T. Awal mula pertemuan Lusi dan Mas T saat ujian tengah semester mereka duduk satu meja. Bukan soal fisik yang ia pandang akan tetapi pembawaan Mas T yang ramah dan suka mengajak mengobrol disela-sela ujian membuat benih-benih cinta tumbuh dalam diri Lusi. Bahkan selepas usai ujian tengah semester beberapa bulan setelah itu kekaguman Lusi terus tumbuh. Teman-teman Mas T yang mengetahui hal itu sering menggoda Lusi dan menjodoh-jodohkan sehingga membuat Lusi terkadangan jengkel karena hal tersebut membuat Mas T agak kurang nyaman dengannya. Puncaknya saat hari Jumat dimana saat itu baru musim hujan yang membuat sebagain siswa SMP N 1 Sanden enggan untuk pulang kerumah karena rintikan air hujan yang awet dari pagi sampai sore, terlebih lagi haru jumat juga merupakan agenda ekstrakurikuler Pramuka. Teman-teman Mas T dengan iseng memberikan Lusi tas milik Mas T sebagai modus untuk pendekatan. Berkat doronagn dari temannya dan teman-teman Mas T, Lusi mengiyakan permintaan tersebut, Posisi saat itu Mas T tengah berada di Kamar Mandi enggan untuk keluar. Teman-teman Mas T sangat bersemangat sekali untuk menonton dan menggoda reaksi apa yang diberikan Mas T. Semua itu harus pupus karena setelah menunggu begitu lama Mas T tak kunjung keluar.


Lusi sudah tidak tahan lagi untuk menunggu ketidakpastian, dengan langkah sedikit menunduk ia menaruh Tas tepat di depan pintu Kamar Mandi dan berlari menuju kelas sedikit merutuki dirinya. Berdiri selama itu dirinya merasa sangat malu terlebih dia menunggu sembari berdiri memegang tas di depan kamar mandi lelaki dilihat siswa yang lain. Namun, sepertinya semesta tengah enggan untuk berbaik hati kepadanya. Lusi harus menahan malu untuk kedua kalinya saat tengah bermain dibawah hujan tempat bangunan gedung yang sudah roboh dan hanya tersisakan keramik saja. Terpleset karena licinnya kramik, baju pramuka yang ia pakai basah semua, beberapa siswa yang melihat Lusi terpleset sontak tertawa hal itu tak lepas dari pandangan Mas T dan teman-temannya.


Beberapa tahun ketika Lusi mengingat kejadian itu atau tak sengaja berpapasan dengan Mas T, rasanya ia ingin pergi menghilang dari muka bumi ini karena mengingat aksinya yang begitu memalukan. Andai saja kejadian dapat diputar ulang lagi, rasanya ia tidak akan pernah suka kepada Mas T mengingat usahanya dalam mendekati kakak tingkatnya itu agak aneh dan tidak biasa. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Puisi Doa Karya Chairil Anwar

RESENSI NOVEL LAUT PASANG 1994

SINOPSIS DAN ANALISIS AYAHKU BUKAN PEMBOHONG KARYA TERE LIYE