RESENSI FILM BUDI PEKERTI
RESENSI FILM BUDI PEKERTI
Oleh Niken Yuni Astuti
SINOPSIS
Film Budi Pekerti menceritakan kehidupan Prani Siswoyo atau akrab dipanggil Bu Prani merupakan Guru BK SMP di daerah Yogyakarta yang memiliki cara unik untuk anak muridnya, bukan sejenis hukuman akan tetapi sejenis refleksi yang diterapkan untuk menyadarkan kepada murid-muridnya atas kesalahan apa yang telah mereka perbuat. Bu Prani memiliki 2 orang anak bernama Tita anak pertamanya yang memiliki usaha thrifting baju yang dijual lewat media sosial kemudian Muklas anak laki-lakinya yang menjadi seleb tiktok dengan nama akun @animalia yang suka memberikan tips and trick untuk mengurangi kebosanan saat pandemi covid-19. Bu Prani juga memiliki suami bernama Pak Didit yang mengalami gangguan depresi karena bisnisnya yang mengalami bangkrut akibat kesalahan membeli otoped yang terlalu banyak jumlahnya sehingga harus rutin ke psikiater dan meminum obat. Permasalahan yang menimpa Bu Prani bermula saat dirinya ingin membeli kue putu Mbok Rahayu, kue putu ini sangat terkenal berkat sejak diunggah lewat laman media sosial sehingga banyak sekali pembeli yang rela mengantri demi mendapatkan dan merasakan kelezatan kue putu tersebut. Saat mengantri banyak pembeli yang menitipkan nomor antrian agar tidak menunggu terlalu lama, karena Bu Prani merasa itu bukan perbuatan yang baik Bu Prani mencoba menasehati salah satu pembeli untuk jangan menyerobot nomor antrian dengan menitipkan ke orang lain. Pembeli tersebut tidak terima dan berakhirlah dengan cekcok adu mulut antara Bu prani dan salah satu pembeli itu. Sayangnya perdebatan adu mulut itu direkam dan viral di sosial media karena Bu Prani menyebut kata “Ahsui!” akan tetapi banyak dari netizen yang menganggap bahwa Bu Prani sedang mengucapkan kata “Asu” yang dianggap tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang pendidik yang memberikan contoh baik, ia mendapatkan berbagai kecaman dan komentar buruk di media sosial.
Tak hanya Bu Prani saja yang mendapatkan hujatan, keluarganya pun ikut mendapatkan komentar buruk dan dikecam dari masyarakat. Segala perbuatan yang mereka lakukan selalu dinilai salah oleh masyarakat yang membuat kehidupan dari keluarga Bu Prani tak lagi tenang. Berkat dukungan dari para alumni peserta didiknya, sedikit-demi sedikit namanya kembali pulih dan pihak sekolah menimbang kembali untuk tetap menjadikan Bu Parni sebagai kandidat calon wakil kepala sekolah. Akan tetapi, masalah tersebut semakin memanas kembali saat Gora muridnya dulu yang tak sengaja ia temui di ruang psikiater tempat suaminya berobat, membuat sebuah video klarifikasi terkait refleksi yang dulu diberikan Bu Parni sebagai tukang gali kubur yang membuat anak itu menjadi kecanduan akan bau tanah dan aroma kamboja yang ada di kuburan. Niat Gora yang ingin membersihkan nama Bu Parni disalah artikan dan karena video klarifikasi ini banyak dari netizen yang mengecam, hal ini dan merasa refleksi yang diberikan Bu Parni tak layak untuk diterapkan karena menimbulkan berbagai trauma yang sangat mendalam, Alumni-Alumni yang mendukung Bu Prani tak lagi mempercayai dan berbalik kebelakang tak lagi membantu masalah yang dihadapi Bu Prani. Pihak sekolah yang juga terus mendesak Bu Prani untuk segera membuat video klarifikasi dengan Gora untuk membersihkan nama sekolah dan namanya. Akan tetapi, Bu Prani disadarkan melalui refleksi yang ia lakukan untuk beristirahat sejenak lari dari masalah dengan menutup telinga menggunakan alat yang pernah diberikan Muklas.
Bu Prani akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari sekolah ketimbang meminta Gora untuk membuat video klarifikasi, karena menurutnya dengan membuat video itu hanya mementingkan dirinya dan nama baik sekolah tanpa memperhatikan kondisi Gora yang takut jika kehidupannya diselidiki oleh netizen, terkait trauma kebiasaan anehnya dan apapun hal lainnya. Bu Prani rela melepas mimpinya sebagai wakil kepala sekolah meskipun perjuangannya mengabdi selama 20 tahun. Hari terakhir Bu Prani di sekolah diantar banyak muridnya sebagai tanda perpisahan mereka, banyak dari murid Bu Prani yang sedih karena tidak lagi diajar olehnya. Bu Parni dan keluarga memilih pindah rumah ke Kulon Progo, hujan seakan menjadi saksi dalam perjalanan mereka untuk memulai kehidupan baru.
KELEBIHAN
Film Budi Pekerti memiliki kelebihan yang dapat diambil dan mengajarkan banyak sekali pesan moral yang ditujukan kepada penonton. Dalam film ini memberikan renungan bahwa pandemi sangat berdampak bagi masyarakat, terkhusus perkembangan zaman yang berkembang semakin pesat salah satunya media sosial yang menjadi wadah untuk merefleksikan diri bahwa segala sesuatu yang ada dalam media sosial jangan ditelan mentah-mentah. Masyarakat perlu menyaring informasi yang diterima dan mencari tahu kebenaran dalam berita tersebut sebelum diedarkan ke orang lain agar tidak menyebarkan berita hoax. Dalam film ini juga memberikan pesan kepada para penontonnya bahwa keluarga adalah penolong utama ketika salah satu anggota keluarga mengalami masalah, keluarga akan mengorbankan dan mempertaruhkan segala hal demi terselesaikan masalah tersebut meskipun mengorbankan jabatan, ekonomi agar bisa keluar dari masalah yang dialami. Sutradara, Wregas juga memanfaatkan peristiwa-peristiwa orisinal yang terjadi di masa pandemi, seperti maraknya penggunaan otoped di Yogyakarta, Ibu-ibu yang gemar berolahraga menggunakan lompat tali dengan lagu-lagu yang di-remix, dan sosok guru sekolah yang menjadi inspirasi dari karakter Ibu Prani. Isi yang ada dalam film “Budi Pekerti” merupakan salah satu film layar lebar yang sukses menyampaikan pesan moral kepada penontonnya. Alur cerita yang realistis ini dijamin akan membuat penonton terus menebak-nebak bagaimana akhir cerita kasus Bu Prani.
KEKURANGAN
Kekurangan yang ada dalam film “Budi Pekerti” terdapat dalam bagian ending yang terkesan dipaksakan karena pada scene terakhir Bu Prani merelakan kesempatan untuk menjabat sebagai wakil kepala sekolah, kemudian permasalahan yang dihadapi oleh Bu Prani seakan-akan tak menemukan jalan tengah karena scene bagian terakhir menunjukkan Bu Prani dan keluarga memutuskan untuk pindah rumah ke daerah Kulon Progo memulai kehidupan baru tanpa adanya keviralan yang menyelimuti lagi. Hal ini menjadi tanda tanya besar apakah permasalahan tersebut ditinggalkan begitu saja, dalam hal ini penonton dibuat bertanya-tanya apakah akan ada lanjutan dari film ini.
SIMPULAN
Film “Budi Pekerti” cocok ditonton bersama keluarga, cocok juga untuk anak usia 13 tahun keatas karena memberikan banyak pesan moral yang hendak disampaikan. Pentingnya akan kesadaran budi pekerti yang saat ini mulai luntur akibat perkembangan zaman dan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Dalam film ini mengajak penonton untuk pandai dalam menggunakan social media dimana segala sesuatu yang ada didalamnya bersifat abstrak tidak mudah untuk dipercaya sebelum mencari kebenaran dan orisinil berita yang didapatkan. Wregas Bhanuteja selaku penulis dan sutradara dalam film ini sukses menyajikan segala permasalahan dan mampu membungkus film ini untuk dekat dengan kehidupan realita di masyarakat. Sehingga penonton diajak untuk merasakan dan dengan mudah menikmati di setiap scene adegan yang ditampilkan.
Ini film sepertinya butuh season lanjutan ya mbak karena endingnya kok kurang
BalasHapusfilmnya menarik, banyak mengandung pesan moral
BalasHapusending filmnya ngambang bikin penasaran huhu
BalasHapuskerenn ini filmnyaa
BalasHapus