Peringatan Azab Tuhan dalam puisi “Nuh” karya Hasta Indriyana

 

Peringatan Azab Tuhan dalam puisi “Nuh” karya Hasta Indriyana

Niken Yuni Astuti

Mahasiswa PBSI FBSB UNY-Aktif di HIMA PBSI UNY

Universitas Negeri Yogyakarta

 


Sastra merupakan  salah satu  karya seni baik yang di dalamnya mengandung berisi nilai- nilai dan unsur tertentu yang bersifat imajinatif. Sastra dianggap sebagai wadah dalam mengungkapkan ekspresi manusia berupa karya tulis atau lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga perasaan. Sastra dapat diartikan sebagai sebuah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium penyampaiannya. Sastra juga menampilkan gambaran tentang kehidupan manusia dan kehidupan tersebut adalah suatu kenyataan sosial. Sastra adalah bentuk karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif dan menggunakan bahasa yang indah serta keberadaannya dapat berguna untuk hal-hal lain. Sastra memiliki beberapa fungsi, yaitu menciptakan keindahan dan pengalaman estetis, memberikan pengetahuan dan wawasan, menghibur dan mengalihkan perhatian, serta menjaga identitas budaya suatu masyarakat atau bangsa. Sastra dibagi menjadi sastra lisan dan sastra tulisan. Sastra lisan adalah sastra yang disampaikan secara lisan, seperti dongeng, cerita rakyat, dan teater. Sedangkan sastra tulisan adalah sastra yang disampaikan melalui tulisan, seperti puisi, prosa, dan drama.

 

Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang memiliki ciri khas tersendiri. Puisi menjadi karya sastra yang ditulis dengan bahasa yang indah dan penuh makna, sehingga mampu menggugah perasaan pembaca dan membangkitkan imajinasi  Puisi juga dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan moral, gagasan, dan makna yang terkandung dalam karya sastra. Struktur teks yang ada dalam puisi merupakan representasi dari ide penulis yang didukung dengan berbagai unsur-unsur pembangunnya. Puisi terbentuk unsur-unsur pembangun yang dapat dibagi berdasarkan  strukturnya diantaranya struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik merupakan unsur yang dapat terlihat secara nyata, struktur fisik meliputi tipografi, diksi, gaya bahasa, kata konkret dan citraan. Sedangkan struktur batin merupakan unsur utama dalam puisi karena struktur batin berkaitan  erat dengan makna yang dihasilkan dalam puisi, struktur batin meliputi tema, nada, suasana dan amanat.

 

 Puisi dapat dikatakan baik jika puisi tersebut memiliki nilai-nilai yang mendalam, penggunaan bahasa yang tertata dan terdapat unsur-unsur pembangun di dalamnya. Tentunya hal tersebut berlaku pada struktur batin maupun struktur fisik yang ada di dalamnya. Sejalan dengan pendapat Pradopo (2010) bahwa puisi adalah suatu imajinasi yang dituangkan ke dalam tulisan yang memiliki makna tersendiri. Selain itu, puisi juga memiliki pesan yang ingin disampaikan oleh penulis, puisi juga disusun sedemikian rupa  dengan penyepadanan bunyi. Puisi merupakan karya seni yang berfokus pada kualitas keindahan bahasa yang dikemas dalam bahasa imajinatif dan disusun menggunakan struktur bahasa yang penuh  akan makna. Puisi juga dapat dimaknai sebagai suatu karya sastra merupakan sebuah seni mengungkapkan makna dengan menggunakan bahasa sebagai media.

 

Manusia merupakan makhluk sempurna karena dianugerahi dengan akal dan pikiran dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lainnya. Manusia diciptakan ke dunia untuk memikul amanah yang diberikan ke dunia dan beribadah dan menyembah Tuhan. Akan tetapi, jika dilihat dalam kehidupan saat ini manusia banyak terlena akan kenikmatan dunia. Maksud dalam kenikmatan dunia ini adalah manusia yang terlalu fokus untuk mengejar kebahagiaan duniawi, padahal dunia ini fana tidak kekal dan tidak abadi. Segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan dan akan kembali apabila Tuhan menghendakinya begitupun dengan manusia. Manusia seakan-akan lupa akan dahsyatnya azab yang akan diberikan Tuhan jika banyak dari manusia yang tidak lagi menyembah dan beribadah kepada Tuhan. Salah satu penggambaran dari dahsyatnya azab Tuhan adalah cerita nabi Nuh dalam cerita umat Islam tentang peristiwa banjir bandang yang menenggelamkan umat nabi Nuh karena tidak mau bertobat dan tidak taat  akan perintah Tuhan. Seperti dalam puisi yang berjudul “Nuh” karya Hasta Indriyana yang menggambarkan kehidupan dunia saat ini lewat goresan tangan yang ia buat dengan judul saya sama mirip dengan kisah nabi Nuh. Hasta menggambarkan kehidupan dunia saat ini dimana manusia saat ini seakan-akan terlena akan kenikmatan dunia tentang jarak dosa dan amal yang digambarkan setipis tisu. Dijelaskan pada bait di bawah ini yang berbunyi:

 

Tak ada yang bisa kubedakan, berapa

Hasta berapa depa jarak amal dan dosa

Dalam bayangan, tak ada yang bisa kubedakan,

Mana perahu mana pulau yang bakal remuk

Tenggelam

 

Pada bait ini menggambarkan seseorang yang tengah merenungi sesuatu hal dan dalam benaknya bertanya-tanya kepada Tuhan. Kata-kata yang digunakan untuk memperlihatkan keadaan bernada renungan, ragu, penuh kebimbangan. Tokoh aku tak dapat membedakan jarak antara amal dan dosa. Kemudian dilanjutkan dengan bait keempat dan kelima tokoh aku yang kembali dilingkupi akan kebimbangan-kebimbangan antara mana perahu yang dapat menyelamatkan dari azab Tuhan dan mana pulau yang akan remuk tenggelam dalam kemaksiatan.

 

 

Melayari daratan ini sambil mengangkut

Puisi, biri-biri, dan kaum yang patuh

Membaca isyarat-isyarat-Mu?

Orang-orang tenggelam dalam mabuk

Yang bertumpuk-tumpuk

 

Dalam baris tersebut digambarkan seolah-olah bergerak di dalam pikiran tokoh “aku”. Menggambarkan seakan-akan pembaca dapat merasakan berbagai perasaan kegelisahan dalam renungan tokoh “aku” tentang pemikirannya terhadap manusia yang terlena akan kesenangan duniawi seperti yang terdapat pada baris ketiga dan keempat  yaitu tokoh aku merenungi dan mempertanyakan dalam benaknya terhadap sesuatu hal yang membuat banyak dari orang-orang terlena akan kehidupan dunia. Dalam puisi ini melambat dengan nada penuh kebimbangan dan keresahan akibat pergolakan batin dalam tokoh “aku” pada puisi ini. Dalam puisi ini penggambaran suasana yang penuh kebingungan, tanda tanya besar dalam benak tentang pergolakan batin tokoh “aku” yang terus membayangkan bagaimana jika kehidupan ini tenggelam akan kecemasan, manusia yang semakin lalai terhadap agama karena kenikmatan duniawi. dan antara amal dan dosa yang sukar dibedakan. Dalam Puisi”Nuh” memiliki amanat yang begitu mendalam apabila pembaca mampu menafsirkan makna perbaitnya.Mengajarkan kepada pembaca untuk selalu ingat akan dosa dan amal yang diibaratkan setipis tisu  dan untuk terus  mengingat Tuhan. Sebagai manusia hendaknya kita selalu sadar bahwa.  Jangan terlena akan kenikmatan duniawi karena segala sesuatu yang ada di dunia ini sifatnya fana/sementara. Representasi puisi ini menurut saya diangkat dari kisah nabi Nuh dan kaumnya. tentang dahsyatnya azab Tuhan terhadap hambanya yang tidak mau bertobat. Dalam  puisi  “Nuh” karya Hasta Indriyana menilik dari segi tokoh “Aku‘ tentang kehidupan saat ini, renungan tentang bayangannya dan pertanyaan yang terus menghinggapi benaknya tentang kecemasan menjadi manusia yang masih goyah iman tentang kebimbangan langkah yang ia jalani menuju pada perahu yang menuju jalan keselamatan atau pulau yang menjerumuskan pada kemaksiatan/kubangan yang menenggelamkannya dalam kenikmatan dunia yang fana.

 

 DAFTAR PUSTAKA

Anggiani, Windi (2023). “Analisis Puisi “Tapi” Karya Sutardji Calzoum Bachri Dengan Menggunakan Pendekatan Struktural”. KHIRANI: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Volume.1, Nomor.1. pp. 01-08.

Djoko Pradopo, R. (2014). Pengkaji puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Nurasmah. (2021). “Penggunaan Karya Sastra Sebagai Media Pembelajaran PAI”. Jurnal Cendekia Sambas. Volume.1, Nomor.1, pp. 10-16.

 

Permana, Z. D., Syaputa, M. A., & Setiawanc, J. (2022). Kajian Strukturalisme pada Puisi “Aku dan Senja” Karya Heri Isnaini pada Buku Montase: Sepilihan Sajak Menggunakan Pendekatan Pragmatik. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa, Volume.1, Nomor.1, pp. 54-59.

 

Pratiwi, Astriani Indah Pratiwi., Ika Mustika dan Indra Permana. (2020). “Analisis Struktur Batin Puisi “Hujan Bulan Juni” Karya Sapardi Djoko Damono”. Parole (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). Volume. 3, Nomor. 3, pp. 203-209.

 

Trinanda, Tasyah ., Elmustian dan Elvrin Septyanti. (2022). “Tipografi pada Kumpulan Sajak Doa Langit Mekar Cinta Laut Karya Abdul Kadir Ibrahim”. Jurnal Pendidikan Tambusai. Volume.6, Nomor.1, pp. 7922-7931.


 

 

 

 

 

 

Komentar

  1. Analisislah sangat terstruktur dan lengkap juga disertai sumber yang dapat menambah kuat pendapat

    BalasHapus
  2. bagus banget puisinya, mengajarkan untuk selalu mengingat Tuhan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Puisi Doa Karya Chairil Anwar

RESENSI NOVEL LAUT PASANG 1994

SINOPSIS DAN ANALISIS AYAHKU BUKAN PEMBOHONG KARYA TERE LIYE