Analisis Unsur Fiksi Pada Cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma
Analisis Unsur Fiksi Pada Cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma
Niken Yuni Astuti
Gambar 1. Seno Gumira Ajidarma
Sumber:whiteboardjournal.com
Gambar 2. Cover buku
Sumber: goodreads.com
Cerpen “Pelajaran mengarang” merupakan salah satu dari karya-karya Seno Gumira Ajidarma yang terbit dalam Harian Kompas tahun 1992, yang kemudian diadaptasi menjadi novel "Marti & Sandra" yang mencapai 152 halaman.
Fakta cerita
Tokoh dan penokohan
Tokoh utama dalam cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma ini seorang anak perempuan berusia 10 tahun bernama Sandra anak kelas 5 SD. Sandra diceritakan sebagai seorang anak yatim yang tinggal bersama ibunya bernama Marti. Sandra digambarkan sebagai seorang anak yang penurut dengan ibunya. Hal ini dapat dibuktikan dalam penggalan cerpen sebagai berikut:
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi perempuan baik-baik Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh.
Tokoh kedua dalam cerpen ini adalah Marti, Ibu Sandra yang digambarkan sebagai wanita malam atau tunasusila. Marti memiliki sifat yang sedikit pemarah dan kasar dengan anaknya, Sandra akan tetapi di beberapa penggalan cerpen sosok Marti digambarkan sebagai seorang ibu yang penyayang dengan anaknya.. Penggambaran sifat yang pemarah dan sedikit kasar ini dapat dibuktikan dari penggalan kutipan sebagai berikut:
“Diam anak setan!”, “Bukan urusanmu anak jadah”, “Sudah untung kamu kukasih makan dan kusekolahkan baik-baik, jangan cerewet kamu anak sialan!”
Penggalan sifat penyayang pada sosok Marti dibuktikan dalam penggalan berikut:
Kadang-kadang, sebelum tidur perempuan itu membacakan sebuah cerita, dari sebuah buku berbahasa Inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita perempuan itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
Tokoh ketiga dalam cerpen ini adalah Ibu Guru Tati yang digambarkan sosok guru yang penyabar, penyayang akan tetapi memiliki pemikiran yang menyamaratakan latar belakang kehidupan siswanya sama tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Hal ini dapat dibuktikan dalam penggalan kutipan berikut ini:
Dari balik kacamatanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Setelah membaca separuh dari tumpukan karangan itu, Ibu Guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Tokoh selanjutnya adala Mami yang dipanggil Sandra dengan sebutan “Nenek” digambarkan sebagai wanita malam yang memiliki kepribadian kasar, dan pemarah. Hal ini dapat dibuktikan dalam penggalan kutipan berikut ini:
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian di rumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Latar cerita
Latar merupakan penggambaran tempat dan waktu yang terjadi dalam sebuah cerita. Latar secara garis besar dikategorikan menjadi tiga bagian, yakni latar tempat, latar waktu dan latar sosial. Latar tempat adalah hal yang berkaitan dengan masalah geografis, latar waktu berkaitan dengan masalah historis, latar suasana penggambaran perasaan tokoh dan latar sosial berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan.(Sayuti, 2017:150).
Dalam cerpen ini terdapat beberapa latar tempat yang digambarkan seperti berikut:
Kelas
“Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir jatuh menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih.”
“Ingin rasanya ia lari keluar kelas.”
“Sandra masih memandang ke luar jendela”
Rumah
“Sandra hanya mendapatkan gambaran rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minum yang kosong berserakan di meja, lantai, bahkan sampai di atas tempat tidur.”
“Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Perempuan yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.”
“Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati…”
Hotel
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR 505, PKL 20.00.
“Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomer kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari.”
Plaza
“Setiap hari Minggu itu, Di sana Sandra bisa mendapatkan boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam ayam goreng. Dan setiap kali Sandra makan, perempuan itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seperti tidak puas-puasnya.”
Tempat tidur
“Kadang-kadang, sebelum tidur perempuan itu membacakan sebuah cerita, dari sebuah buku berbahasa Inggris dengan gambar- gambar berwarna. Selesai membacakan cerita perempuan itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.”
Dalam cerpen ini terdapat beberapa latar waktu yang digambarkan seperti berikut:
“Kalian punya waktu 60 menit.”
“Sepuluh menit segera berlalu.”
“Lima belas menit telah berlalu.”
“Dua puluh menit telah berlalu.”
“Tiga puluh menit lewat tanpa permisi.”
“Suatu malam perempuan itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk.”
“Empat puluh menit lewat sudah.”
“Ia juga hanya berbisik malam itu.”
Dalam cerpen ini terdapat beberapa latar suasana yang digambarkan seperti berikut:
Hening
“Bu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya….”
Kebingungan
“Sandra sampai sekarang tak mengerti. Mengapa ada sejumlah perempuan duduk di ruang kaca ditonton sejumlah lelaki yang menunjuk-nunjuk mereka.”
Senang
“Tentu, tentu Sandra tahu perempuan itu mencintainya. Setiap hari Minggu perempuan itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini ke plaza itu….”
Haru
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan menjadi perempuan baik-baik Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sedih
“Sandra tak menjawab. Ia mulai menulis judulnya:Ibu. Namun begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. “Mama, Mama,” bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun sandra telah terbiasa hanya berbisik.”
“Perempuan itu tak mendengar lagi ketika di kolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan. “Mama, Mama,” dan pipinya basah oleh air mata.”
Latar sosial yang digambarkan yakni kehidupan seorang anak bernama Sandra yang mengalami kehidupan pelik. Sandra digambarkan anak kelas 5 SD berumur 10 tahun. Suatu hari Ibu Guru Tati memberikan penugasan berupa menulis karangan dengan tiga judul yang ditawarkan. Judul pertama, Keluarga Kami yang Bahagia, Judul kedua, Liburan ke Rumah Nenek, Judul ketiga, Ibu. Sandra benci setiap pelajaran mengarang karena ia selalu mendapatkan kesulitan besar karena ia harus betul-betul mengarang tentang kisah hidupnya. la tidak bisa menceritakan kondisi kehidupan keluarganya apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul yang telah ditawarkan Ibu Guru Tati, mungkin teman-temanya tinggal menuliskan kenyataan yang telah mereka alami. Akan tetapi tidak dengan dirinya, Sandra harus betul-betul mengarang karena kini ia mendapatkan pilihan yang semua tidak menyenangkan. Keluarga Kami yang Berbahagia, Sandra tidak menemukan gambaran apa yang akan ia karang dengan tema tersebut, jauh dari sosok papa yang bahkan dirinya tidak tahu rupa dan fisiknya. Liburan ke rumah Nenek, dalam ingatannya tergambar sosok perempuan dengan wajah penuh kerut yang dipoles dengan riasan tebal, wanita itu sangat menyebalkan bagi Sandra, ia tidak begitu tahu dengan jelas siapakah sosok perempuan menyebalkan itu. Tema terakhir Ibu, Sandra dilingkupi kebimbangan apa yang akan ia tuliskan dengan tema tersebut dalam benaknya terlintas perempuan cantik yang selalu bangun siang, selalu merokok dan kalau makan selalu dengan tangan dan kaki kanan yang naik ke atas kursi. Setiap kali Peger berbunyi, ibunya akan merias dan selalu pulang malam dalam keadaan mabuk. Di akhir cerpen ini Sandra hanya menuliskan kalimat sepotong: Ibuku seorang pelacur….
Alur Cerita
Alur adalah rangkaian peristiwa yang disusun secara cermat dan seksama agar alur cerita dapat tersambung dengan jelas mulai dari pendahuluan, klimaks hingga akhir. Alur mempunyai beberapa tahapan, tahap pertama adalah tahap pengenalan, pada tahap ini penulis terlebih dahulu memperkenalkan tokoh-tokoh beserta ciri-cirinya dalam cerpen dan menjelaskan latar belakang cerita. Tahap kedua adalah konflik awal, dimana penulis mulai menunjukkan bagaimana konflik yang akan dialami tokoh dimulai. Tahap ketiga adalah masa puncak konflik. Pada tahap ini, penulis mulai menunjukkan bagaimana permasalahan yang dialami tokoh mulai meningkat dan ketegangan yang diwujudkan oleh peristiwa-peristiwa yang saling bertentangan. Tahap selanjutnya adalah ketika konflik mulai mereda dan para tokoh mulai mencari jalan keluar dan jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi. Tahap terakhir yakni tahap penyelesaian, dalam tahap ini menceritakan tokoh dalam menyelesaikan masalah yang tengah dialami dan mulai terlihat bagian akhir dalam suatu cerita. Dalam cerpen “Pelajaran Mengarang”, Seno Gumira Ajidarma menulis alur dengan runtut seperti bagian awal diceritakan bagaimana tokoh Bu tati yang memulai pelajaran di kelas dengan memberikan penugasan kepada siswa-siswinya untuk membuat menuliskan sebuah karangan. Alur berlanjut dimana tokoh Sandra mulai diperkenalkan oleh pengarang dengan sosok Sandra yang dilingkupi rasa kebingungan akan menuliskan apa dalam karangan tersebut. Pada tahap puncak konflik, Seno menggambarkan kehidupan rumit keluarga Sandra yang terungkap dalam segala kompleksitasnya mulai dari latar belakang keluarga yang melibatkan Ibu dan Mami, hingga perlakuan tak terduga yang mereka berikan padanya. Namun, di tahap penyelesaian ini, Sandra sadar bahwa takdir telah menentukan jalan hidupnya, dan akhirnya, dalam karangan itu, dia menuliskan kalimat yang begitu menyentuh hati.
Sarana cerita
Judul
Judul Cerpen yang diambil Seno Gumira Ajidarma mengambil dari gambaran besar yakni “Pelajaran Mengarang” yang tengah dilakukan oleh tokoh utama Sandra. Judul ini diangkat bukan tanpa sebab, judul ini diangkat karena tokoh Sandra yang mengalami kesulitan besar ketika pelajaran mengarang karena dirinya kebingungan apa yang harus ditulis dalam lembaran kertas di tangannya.
Sudut Pandang
Sudut pandang pada dasarnya adalah pandangan pengarang, yang digunakan dalam memandang peristiwa dan kejadian dalam cerita. Dalam cerpen “Pelajaran Mengarang” Seno Gumira Ajidarma menggunakan sudut pandang orang ketiga dia mahatahu (Third person-omniscient). Dalam sudut pandang dia maha tahu ini, pengarang berada di luar cerita, dan biasanya pengarang hanya sekedar pengamat maha tahu bahkan bisa berbincang langsung dengan pembaca. Dalam sudut pandang ini Seno Gumira Ajidarma benar-benar mendongengkan sebuah realitas kehidupan yang terjadi, seperti wanita malam, anak kecil, dan pelajaran mengarang. pengarang menggunakan orang ketiga untuk menceritakan kisah dalam cerpennya.
Gaya bahasa
Gaya bahasa adalah pilihan kata dan ungkapan yang digunakan untuk menyampaikan gagasan, pemikiran, dan pesan kepada pembaca. Gaya bahasa ini didasarkan pada ungkapan-ungkapan pribadi untuk menyampaikan tujuan secara tertulis. Dengan kata lain, kita sering menyebut gaya bahasa sebagai idiom. Menurut Nurgiyantoro (2005), gaya bahasa cerita pendek adalah pemilihan kata-kata yang disusun dalam bahasa kiasan dan ditulis menurut struktur kalimat. Dalam cerpen ini Seno Gumira Ajidarma memakai gaya bahasa yang kreatif dan kaya akan metafora serta imajinasi.
Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang menjadi salah satu tompangan dari sebuah karya sastra.Tema menjadi salah satu pengembangan dari seluruh teks yang sifatnya menjiwai seluruh bagian dari cerita itu sendiri. Tema yang diangkat dalam cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma ini mengangkat tema kehidupan sosial, menceritakan kehidupan seorang anak perempuan yang bernama Sandra yang mengalami kehidupan cukup rumit dari kebanyakan anak lainnya. Hal ini dapat dibuktikan dalam penggalan kutipan berikut ini.
“Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran di atas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.”
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan dalam cerpen ini dilihat dari pengarang yakni Seno Gumira Ajidarma dikenal dengan penggunaan bahasa yang kreatif dan kaya akan metafora serta imajinasi. Cerita ini menggambarkan realitas kehidupan sosial yang ada. sehingga kritik sosial yang diangkat dapat terhighlight dengan baik. Penonjolan tentang kecerdasan yang tinggi, menyoroti isu pendidikan dan sistem pembelajaran di Indonesia. Meskipun cerita berfokus pada keadaan sekolah, penulis berhasil menggambarkan karakter siswa dan guru secara mendalam.Alur cerita yang menarik sehingga tidak membosankan para pembaca karena di setiap pengadeganan memberikan kejutan.
Kelemahan yang dapat dirasakan setelah membaca cerpen “Pelajaran mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma adalah buku ini terdapat pemilihan kosakata yang sulit dimengerti karena jarang digunakan pada kehidupan saat ini seperti kata pager yang banyak dari generasi saat ini tidak mengenal apa itu pager bahkan tidak terdaftar dalam KBBI.. Kemudian cerpen ini cocok dibaca untuk usia anak remaja keatas karena terdapat beberapa kata yang kasar dan penggambaran cerita yang tidak diperuntukkan untuk anak-anak.
DAFTAR PUSTAKA
Hanafi., Shafaa Rizki Awallliyah dan Novia Dea Puspita. 2023. Analisis Objektif Dan Mimetik Pada Cerpen “Pelajaran Mengarang” Karya Seno Gumira Ajidarma. Jurnal Arjuna: Publikasi Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Matematika. Vol. 1. No.5, pp. 262-273.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak : Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta:Gama Media.
Sasmita., Aprilia Ratna. 2021. Kritik Sosial Dalam Cerpen Pelajaran Mengarang Karya Seno Gumira Ajidarma Melalui Pendekatan Semiotika Pierce. Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya. Vol. 9, No.1, pp. 61-73.
PELAJARAN MENGARANG
Seno Gumira Ajidarma
Pelajaran mengarang sudah dimulai.
“Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia” Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya, la memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”. Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. la tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandara harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.
Ketika berpikir tentang "Keluarga Kami yang Berbahagia", Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran di atas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.
***
Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkannya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papal Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk ke dalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk di ruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menunjuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa ke sini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru di luar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.
Tiga puluh menit lewat tanpa permisi Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu” Apakah ia akan menulis tentang ibu nya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik ke atas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? la pernah terbangun malam malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan terge- latak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan- muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seperti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, "Sandra, Sandra..."
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluarkan asap mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri di muka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00
Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah, ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.
***
Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang terlalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Beberapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab la mulai menulis judulnya: Ibu Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, la melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
la juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika di kolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan "Mama, mama…” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu bu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
la memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur...
Palmerah, 30 November 1991
Kompas, 5 Januari 1992
Siapa yang kalau ujian suka sekali mengarang🤭
BalasHapusanalisisnya mudah dipahami dan lengkap
BalasHapuswiuhhh, mengarang hobiku tuh
BalasHapuspak seno emang suka plot twist gitu hm
BalasHapus