Laut 1987
Laut 1987
Niken Yuni Astuti
Semburat
rona jingga mulai menampakkan cahaya kemerahannya, tepat di pesisir pulau kecil
sana, rona senja nampak cantik terlihat dari pantulan air laut, menandakan
matahari akan berganti dengan bulan, dan siang akan berubah menjadi malam. Di
balik indahnya ciptaan Tuhan itu, terdapat beberapa orang merasa lega karena
berhasil melewati maut. Tuhan, seakan-akan memberi mereka kesempatan kedua
untuk melanjutkan kehidupan di dunia yang fana ini. Pulau kecil itu, menjadi
saksi bagaimana pertarungan alot para tentara dalam melumpuhkan para teroris.
“Misi telah
selesai, para sandera telah aman diselamatkan!” Seorang lelaki berbaju loreng
yang melekat di tubuh tegap dan bahu lebarnya, rahang kokoh, serta kulit sawo
matang menatap garang orang-orang di hadapannya.
“Siap, Komandan!”
Beberapa
orang dengan baju loreng berwarna hijau yang sama secara serentak memanggilnya
komandan, penanda bahwa lelaki yang nampak berdiri gagah itu adalah
seorang pemimpin dalam tugas penyelamatan ini. Lelaki itu adalah Sigit
Sagam Hartono atau kerap biasa disapa Kapten Sagam. Waktu menegangkan telah
berhasil mereka lewati, sekelompok kawanan teroris telah berhasil mereka
lumpuhkan. Kapten Sagam sebagai komandan dari ketujuh anak buahnya merasa
bangga, mereka kembali berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang. Para sandera
berjumlah 9 orang yang terdiri dari 5 perempuan dan sisanya adalah anak kecil
serta lelaki paruh baya. Pm .ara sandera tak henti-hentinya
mengucap syukur dan banyak berterima kasih.
“Apel sore
ini dibubarkan, untuk selanjutnya adalah perjalanan pulang menuju ke kota. Tim
Alpha akan dibagi menjadi dua tim, secara bergantian mengawasi para pelaku dan
sisanya menjaga para korban.” Kapten Sagam mulai menjelaskan pembagian tim
sebelum melanjutkan kepulangan mereka ke kota malam ini.
“Apa kalian
mengerti?”
“Siap,
mengerti Komandan!”
Beberapa
anak buahnya mulai mengarahkan para korban sandera menuju ke kapal,
sebagian lagi, bertugas mengikat para pelaku teroris di bagian tangan dan kaki
menggunakan tali tambang sebelum dimasukkan kedalam kapal, mengantisipasi
mereka berbuat ulah saat di perjalanan nanti.
“Lapor, Kapten!”
ujar anak buahnya sembari memberi hormat kepada Kapten Sagam.
“Ada Apa
Letda Komang?”
“Ada pesan
dari atasan melalui VHF Radio kapten.”
“Berikan
kepadaku,” ujar Kapten Sagam sembari menerima sebuah Handheld VHF Radio, memutar
antena radio ke angka 13 untuk menghubungkan.
Srek…srek….
“Halo.”
“Bagaimana
dengan keadaan putriku?”
“Lapor, para
sandera telah aman diselamatkan.”
“Aku tidak
peduli dengan mereka semua yang terpenting kamu harus membawa putriku malam ini
dengan selamat!”
Sagam
menghembuskan nafasnya, mengembalikan handheld VHF radio itu kepada
Letda Komang setelah atasannya memutuskan sambungannya. Pikirannya kembali
penuh mencoba mengatur strategi dan ancaman yang mungkin saja akan terjadi saat
di perjalanan nanti.
“Berapa lama perjalanan dari sini
menuju ke kota Kapten?” tanya anak buahnya, Letda Komang.
“Jika tidak ada kendala,
kemungkinan kita akan sampai ke Kota besok pagi,” jawab Kapten Sagam
sembari melirik arloji yang berada di pergelangan tangannya. Jarak
pulau tak penghuni ini sangat jauh dari pemukiman warga, akses transportasi
satu-satunya hanyalah kapal dan membutuhkan waktu perjalanan 16 jam untuk
sampai ke kota.
“Apakah perjalanan ini tidak bisa
ditunda sampai besok pagi? Saya rasa malam ini akan turun hujan.”
“Perintah langsung dari atasan!”
Letda Komang membulatkan mulutnya
mendengar jawaban dari kapten Sagam, “Jadi benar rumor tentang putri kolonel
diculik kawanan teroris itu?”
Kapten Sagam hanya mengangkat kedua
bahunya sembari berjalan ke arah Kapal.
“Yang mana Kapten?” Letda Komang
membuntuti Kapten Sagam dari belakang, dirinya dibuat penasaran dengan sosok
putri atasnya.
“Perempuan yang memakai tudung
putih itu.”
“Oh, jadi itu mantan pacar Kapten
dulu,” seru Letda Komang dengan keras sembari menatap perempuan cantik
bertudung putih itu.
“Shut, diamlah
Komang!” Kapten Sagam mendelik tajam kearah Letda Komang, para
perempuan yang tak sengaja mendengar hanya tersenyum dan sesekali
menggoda perempuan yang tengah dibicarakan itu.
“Sedikit komedi setelah bencana itu
harus ada kapten, untuk mencairkan ketegangan!” gurau Letda Komang mencoba
berbaur dengan para korban sandera sembari mencairkan suasana.
“Hallo, Dokter Gimna. Perkenalkan
nama awak, Komang. Dokter pasti tidak asing bukan dengan Kapten saya yang
berbakat ini?” Letda Komang menyapa sosok perempuan cantik yang memakai tudung
putih sembari menampilkan gaya sok kerennya.
“Saya tidak mungkin melupakan
Kapten Sagam,” Perempuan itu menatap Kapten Sagam dengan penuh kerinduan. Tutur
katanya yang lembut, caranya memandangan membuat siapa pun langsung jatuh hati.
“Terima kasih sudah menolong kami.”
“Ucapan terima kasih ini lebih
pantas kamu berikan kepada anak buah saya.”
Selembut apapun tutur kata atau
secantik apapun perempuan itu, Kapten Sagam tak akan pernah kembali kepada Dokter
Gimna, sebab dunianya saat ini hanya terisi oleh satu nama, Analise.
***
Dalam kegelapan malam ini, tak ada
cahaya dari bulan dan bintang dilangit sana, seakan-akan mereka enggan untuk
menampakkan keindahannya. Kapten Sagam yang tengah mengawasi keadaan luar
menghela nafas, tebakan Letda Komang benar adanya malam ini akan segera turun
hujan. Sore yang cerah tak ada jaminan bahwa malam tak akan turun hujan.
Kapten Sagam terus memandangi wajah
cantik dalam foto yang berada di genggaman tanganya. Annalise tinggal sebentar
lagi rindu ini akan terobati. Misi penyelamatan telah berhasil ia selesaikan.
“Cantik sekali.” Kapten Sagam hanya
tersenyum melihat kedatangan Letda Komang, sembari memasukkan foto ke dalam
saku celananya.
“Bagaimana keadaan mereka?” tanya
Sagam mengalihkan topik, sosok ‘mereka’ yang ditanyakan Kapten Sagam adalah
para korban sandera yang telah aman diselamatkan.
“Mereka aman Kapten, beberapa dari
mereka sudah tertidur.”
Lama keduanya terdiam, menikmati
dinginnya malam yang semakin menusuk raga. Air laut yang asin itu kini
secara perlahan menggoyangkan perahu yang mereka tumpangi, melaju secara normal
ditemani gelapnya malam tanpa bulan dan bintang.
“Saya iri dengan Kapten, pangkat di
militer cemerlang ditambah lagi setiap misi yang ditugaskan selalu berhasil.
Hidup Kapten yang selalu berjalan mulus ya.” Letda Komang kembali memulai topik
pembicaraan. Dirinya jelas menampakkan rasa iri di wajahnya. Siapa yang tidak
iri dengan sosok yang berada di sampingnya itu yang selalu mendapat
keberuntungan dalam hidup.
Sagam terkekeh mendengar ucapan
Letda Komang, lucu baginya apabila ada seseorang yang iri dengan hidupnya. Apa
yang begitu spesial dalam dirinya? Kisah cinta? Ia rasa tak begitu mulus dalam
hal ini. Pangkat? Ayolah, semua orang bisa mencapai itu. Dari keluarga berada?
Ia rasa semua itu hanyalah bagian kecil.
“Hidup saya tak semulus jalan tol,
Komang. Orang lain mungkin hanya melihat sisi baiknya saja. Tapi saya, yang
menjalani semua itu dan saya yang tahu betul apa yang saya rasakan. Ada kalanya
saya terjatuh dan ada kalanya saya bangkit. Hidup itu bukan soal beruntung atau
tidaknya, hidup itu bagaimana kita memperjuangkan sesuatu yang ingin kita
capai.”
Letda Komang terpana mendengar
kalimat itu dari Kaptennya, memberi tepuk tangan tanda kagum. “Bagian ini
yang saya iri dari Kapten.”
“Setiap orang memiliki kisah yang
berbeda, Komang. Aku yakin kisah hidupmu menarik.”
“Yah, sangat menarik, Kapten. Sampai-sampai
hidupku digerakkan oleh orang lain,” keluh Letda Komang, membuat Kapten Sagam
mengerutkan dahinya, mencoba mencerna setiap kata yang terlontar di mulut anak
buahnya itu.
“Awak rindu dengan masakan amak,”
ucap Letda Komang mengubah topik dengan aksen bahasa Minangnya yang khas.
Aku rindu dengan masakan ibu.
Sagam ikut tersenyum melihat Komang
yang berada di sampingnya itu menatap gelapnya malam dengan penuh harap,
pikirannya menerawang mengingat masakan lezat yang dibuat oleh ibunya.
“Sebentar lagi rindumu akan
terobati, tunggulah sebentar, kawan!”
“Saya takut menunggu
ketidakpastian ini, Kapten.”
“Kenapa takut?” tanya Kapten Sagam
sembari terkekeh namun penuh kebingungan, tatapan penuh rindu yang diperlihatkan
Komang beberapa menit yang lalu ia tampakkan kini mulai meredup, raut
wajahnya menampakkan kesedihan yang entah ditimbulkan oleh apa.
“Saya takut tidak bisa bertemu
dengan Amak, beberapa hari yang lalu saat berada di pulau saya mendapati sebuah
mimpi yang mengerikan sepanjang hidup saya. Dalam mimpi itu saya melihat, Amak
menangis meraung-raung memeluk tubuh saya yang terbalut dengan kain putih.
Walaupun begitu, saya ikhlas apabila mati dalam menjalankan tugas. Hanya saja, saya
tidak tega melihat Amak yang menanti kepulangan saya mendapati tubuh
anaknya yang sudah tidak bernyawa. Sejak saat itu saya sangat menjadi
takut menunggu ketidakpastian waktu, Kapten.”
Kapten Sagam terdiam beberapa saat,
kembali mencerna perkataan Komang barusan. Dirinya seperti dihantam batu yang
sangat besar sehingga membuat hatinya ikut merasakan sakit. Tak pernah ia
bayangkan sebelumnya, jika lelaki yang berada di sampingnya memiliki ketakutan
besar dihatinya. Senyum yang selalu ia tampilkan hanyalah kedok. Kini, dirinya
dilanda ketakutan yang sama di tengah laut dan dinginnya malam tak memberikan
kepastian bahwa mereka akan kembali dengan selamat.
“Percayalah padaku, kita akan
selamat sampai tujuan.” Kapten Sagam mencoba menenangkan hatinya sendiri.
Letda Komang terkekeh ucapan Kapten
Sagam mungkin sedikit menghiburnya. “Apa Kapten percaya kepada saya?”
“Saya selalu menaruh kepercayaan
kepada anak buah saya, termasuk kepada kamu.”
“Bagaimana jika saya membuat sebuah
kesalahan yang dapat mematahkan kepercayaan Kapten?”
“Lapor, Kapten. Beberapa dari
anak-anak mengalami keracunan makanan!”
Percakapan mereka terhenti, salah
satu anak buahnya yang lain menghampiri. Dengan sigap Kapten Sagam langsung
berlari menuju ke dalam kapal. Suara tangis mulai menggema menyesakkan batin di
ruangan itu. Langkahnya sempat terhenti karena batinya ikut sakit melihat
beberapa orang meraung seperti kehilangan sesuatu. Dalam benaknya mulai
bertanya-tanya, kenapa hal ini bisa terjadi?
“Wa-waktu kematian pukul 01.40
waktu Indonesia bagian barat.” Dengan suara terbata-bata, Dokter Gimna menahan
sesak di dadanys Dengan tangan bergetar Dokter Gimna menutupkan mata pasiennya
itu untuk beristirahat dengan tenang. Tatapan matanya kembali kosong melihat
pasiennya tidak terselamatkan. Beberapa diantara anak-anak yang keracunan,
salah satunya gadis perempuan itu tidak tertolong karena alat yang tidak
memadai. Kapten Sagam dengan sigap menahan tubuh Dokter Gimna agar tidak
ambruk, wanita itu tengah syok berat melihat beberapa orang tak bisa ia
selamatkan.
“Sagam, aku gagal menjadi seorang Dokter.”
“Sadarlah Gimna, masih banyak orang
yang membutuhkan pertolonganmu!” Kapten Sagam mencoba menenangkan Dokter Gimna,
menyadarkan wanita tersebut bahwa perempuan itu masih bisa menolong orang lain
dengan kedua tanganya.
Saat Kapten Sagam berada di dalam
tak hanya anak-anak mengalami yang mengalami mual dan muntah, beberapa
dari orang dewasa juga ikut merasakan gejalanya. Dirinya dengan sigap ikut
membantu Dokter Gimna dan beberapa anak buahnya untuk mengecek kondisi tersebut
“Apa yang terjadi?” tanya Kapten
Sagam yang juga ikut mengecek keadaan korban.
“Kami masih menyelidiki penyebab
keracunan ini, Kapten. Tapi ada kemungkinan penyebabnya adalah makanan atau
minuman yang mereka konsumsi sudah terkontaminasi dengan zat yang
berbahaya.”
“Latda Dirga, selidiki
makanan atau minuman yang mungkin menjadi penyebab keracunan ini.”
“Siap, Kapten!” Letda Dirga yang
terpanggil namanya pun langsung sigap menjalankan tugas yang diperintahkan.
“Apa kita akan mati disini?”
“Percayalah padaku, apapun yang
terjadi hari ini. Kalian semua akan selamat!”
***
Malam
bertambah malam. Hawa dingin di tengah lautan ini mulai menusuk tubuh Kapten
Sagam yang hanya berbalut pakaian lorengnya. Rintik hujan mulai berjatuhan
membasahi bumi ditengah laut yang gelap gulita. Kapten Sagam terus memikirkan
kejadian beberapa jam yang lalu, dirinya sedikit lengah sehingga membuat nyawa
beberapa orang dalam bahaya. Setelah diselidiki penyebab keracunan itu berasal
dari air yang tercampur dengan zat berbahaya.
“Sagam!”
Kapten
Sagam langsung menoleh kebelakang begitu namanya dipanggil. Ternyata Dokter
Gimna yang memanggil dari kejauhan berjalan menghampirinya. Wajah sembab nampak
menghiasi wajah cantik perempuan itu.
“Bagaimana
keadaan mereka?” tanya Kapten Sagam tanpa peduli menyapa Dokter Gimna kembali.
“Ihh! Nggak
disapa balik aku?” goda Dokter Gimna sambil terkekeh ikut duduk di samping
Kapten Sagam. “Keadaan mereka sudah membaik. tinggal istirahat, besok pagi
langsung sehat. Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan gadis itu.”
Kapten
Sagam tak menanggapi penjelasan dari Dokter Gimna, mendengarnya saja sudah
membuatnya sedikit lega.
“Ihh! Dari
dulu sikap kamu nggak berubah ya, masih kaku!” goda Dokter Gimna mencoba
membangun topik pembicaraan.
“Harga dari
sebuah rasa percaya itu mahal, Gimna.”
Dokter
Gimna terdiam mendengar kalimat yang dikatakan Kapten Sagam barusan. Perempuan
itu tersenyum getir menatap sendu kearahnya. “Kamu masih belum melupakan
kejadian tujuh tahun yang lalu? Ayolah Sagam, aku nggak sengaja selingkuh.”
“Saya nggak
lagi membahas kejadian itu. Bagi saya masa lalu hanyalah kenangan, hari ini adalah kenyataan dan hari esok adalah
harapan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa harga dari rasa percaya itu mahal,” ucap
Kapten Sagam sebelum mengakhiri pembicaraan.
“Hujan
semakin deras. Sebaiknya kamu masuk. Dokter Gimna.”
Tanpa
menjawab Dokter Gimna langsung tahu bahwa itu jenis pengusiran halus dari
Kapten Sagam yang tidak ingin didekati, beranjak dari duduk dan pergi menjauh
sembari tersenyum ke arahnya. Kepergian Dokter Gimna bukan bermaksud untuk
mengusir hanya saja memang benar hujan yang semula rintik-rintik
bertambah menjadi semakin deras.
Kapten
Sagam beranjak dari duduknya setelah kepergian Dokter Gimna, berjalan menuju
ruang bawah tanah tempat para pelaku teroris diamankan.
"Cih,
dunia ini hanya berisi orang-orang munafik!" ucap lelaki penuh tato di
tangannya yang diyakini sebagai ketua kelompok itu sembari berdecih, menatap
penuh benci Kapten Sagam yang berjalan ke arahnya.
"Siapa
yang munafik, kau atau aku? Kamu hanya sedang mencari alasan untuk membenarkan
perbuatanmu Marco!" kekeh Kapten Sagam berjalan santai menyeret kursi
mendekat. Tubuh Marco memang terikat, akan tetapi tidak dengan mulutnya. Dalam
keadaan seperti ini dirinya masih saja menunjukkan permusuhan yang sengit.
“Orang-orang
seperti kamu dan mereka yang pantas untuk mati!”
Plakkk!
“Dirimu
bukan Tuhan yang memutuskan hidup dan mati kami! Sekalipun aku harus mati hari
ini aku tidak sudi mati ditangan orang sepertimu!” murka Kapten Sagam menatap
tajam kearah Marco. Kapten Sagam bisa menjadi kejam bila berhubungan dengan
nyawa seseorang.
“Sebegitu
percaya diri sekali kamu, Sagam!”
Kapten
Sagam terkekeh. “Tentu, menghadapi orang seperti dirimu harus memiliki
kepercayaan yang penuh, ditambah lagi aku percaya kepada orang-orangku.”
“Jangan
mudah percaya kepada orang lain, Sagam. Bisa jadi orang itu akan menusukmu dari
belakang!” ejek Marco sembari mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi yang
terbebas dari jeratan tali, seakan-akan ingin memamerkan kepada Kapten Sagam.
“Contohnya seperti ini.” Kapten Sagam terkejut melihat tangan Marco dan beberapa
kelompoknya terbebas dari jeratan tali.
Dor!
Belum
sempat melangkah, terdengar bunyi desingan peluru dari atas yang membuat semua
orang panik. Di tengah hujan deras dan sedikit angin membuat semua orang
menjadi takut. Belum sempat Kapten Sagam mengatur keterkejutannya. Ia dibuat
terkejut kembali dengan kehadiran Letda Komang yang berjalan ke arahnya
sambil menodongkan pistol.
“Surprise!”
tawa Marco pecah melihat ekspresi terkejut Kapten Sagam.
“Penghianat!´
batinya menjerit. Tetapi akalnya mencoba untuk tetap waras, tanda tanya besar
berada di otaknya. Mencari alasan-alasan yang masuk di akal.
“Tidak
mungkin, ku percaya kepada anak buahku. Komang tidak mungkin berkhianat!”
Dor!
Akh!
Kapten Sagam
meringis menahan luka tembakan yang berada di area perut bagian kanan bawahnya,
darah segar mulai mengucur. Dirinya mendesis menatap tajam kearah Letda Komang.
“Turunkan
senjata kalian. Atau orang ini akan mati ditanganku!” teriak Letda Komang,
menodongkan pistol kearah kepala Kapten Sagam, saat beberapa anak buahnya mulai
mengepung ruangan itu.
“Dasar
Penghianat!” ujar Lettu Dirga menatap marah kearahnya, dirinya tak menghiraukan
gertakan untuk menurunkan senjata yang berada di tangannya. “Setega itukah kau
dengan Kapten Sagam!”
“Satu
langkah lagi kau mendekat akan kupastikan Sagam sudah tak bernyawa!”
Dor!
“Turunkan
senjata kalian!” teriak Komang
Tembakan
itu berhasil membuat Lettu Dirga beserta
2 anak buah yang lain menurunkan senjata. Sagam meringis kesakitan, lagi-lagi
peluru itu bersarang ditubuhnya tepat diarea betis kanan yang seakan-akan
melumpuhkan untuk menompang tubuhnya. Marco yang melihat wajah kesakitan Sagam
terbahak-bahak, seakan dirinya menjadi orang paling bahagia melihat
penderitaannya.
“Sagam oh
Sagam, malang sekali nasibmu ini selalu dihianati oleh orang terdekatmu!” ledek
Marco duduk dikursi yang dipakai Sagam tadi. “Kini posisi kita berbalik kau
yang menjadi tawananku.”
“Kenapa
kamu menghianati kepercayaanku?” tanya Kapten Sagam mencoba mencari akar dari
masalah yang membuat Komang menghianati dirinya.
“Sudah aku
bilang aku iri dengan hidupmu, Sagam. Setiap misi yang kau lakukan selalu
mendapat pujian dari atasan, lalu diriku? Selalu dibandingkan dengan dirimu
dianggap sebagai orang yang tak berguna dalam setiap misi!”
Sagam
tertawa merasa jawaban dari komang adalah sebuah lontaran yang sangat
menggelitik, “karena kamu bodoh, Komang!”
***
Kapten
Sagam mulai merasa kebas di area luka yang berada di perutnya, Sekujur tubuhnya
kini mulai tak bisa digerakkan, tenggelam menuju dasarnya laut biru ini. Lama
kelamaan pandangannya mulai memudar. Tetapi, sekuat tenaga dirinya berusaha
menyadarkan diri.
“Aku ingin
pulang!” Batinya menjerit. Dalam benaknya, yang ia pikirkan kini
hanya satu, sosok Analise yang menampilkan wajah cantik tersenyum manis ke
arahnya. Pesan yang ingin ia tuliskan kini, tak akan pernah tersampaikan
kepada penerimanya.
Analise,
tumbuhlah menjadi gadis cantik
Jangan
menunggu diriku pulang
Berlayarlah
mengelilingi lautan manusia
Dengan
karakter yang berbeda-beda
Pesanku
hanya satu, jangan pernah percaya pada siapapun
Percayalah
pada dirimu sendiri
Kelak kau
akan mengerti, aku pergi bukan meninggalkanmu
Aku pergi
untuk menjalankan kewajiban tugasku
Dalam
kenangan, laut 1987
Papa pergi
Birunya
laut yang terbentang luas itu menyimpan berbagai perasaan di dalamnya. Tentang
rindu yang tak tersampaikan, luka yang tak berkesudahan dan secercah harapan
bagi mereka yang ingin pulang.
Cerpennya keren pasti kalau diadaptasi jdi series bagus ini
BalasHapusTulisannya baguss
BalasHapuskeren banget
BalasHapuswahhhh, keren sekaliiii
BalasHapustulisan cerpennya bagus
BalasHapusbagus banget
BalasHapus